Cuaca ekstrim:Apakah disebabkan oleh perubahan iklim?

2019-05-23 07:11:12 阮鳅 26
2015年9月17日下午5:37发布
2015年9月17日下午5:52更新

CUACA EKSTRIM。 Motor di Jakarta terjebak banjir dan harus diangkut agar tidak terendam air。 Foto diambil pada 2 Februari 2007,saat banjir melanda雅加达。 Foto oleh Mast Irham / EPA

CUACA EKSTRIM。 Motor di Jakarta terjebak banjir dan harus diangkut agar tidak terendam air。 Foto diambil pada 2 Februari 2007,saat banjir melanda雅加达。 Foto oleh Mast Irham / EPA

印度尼西亚雅加达 - Setiap musim kemarau,banyak daerah di Indonesia yang mengalami kekeringan。 Sebaliknya pada musim hujan,banjir hampir selalu menggenangi berbagai area di pelosok negeri。

Pertanyaannya,apakah perubahan iklim merupakan penyebabnya?

Apa itu perubahan iklim?

Menurut penjelasan buku Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika(BMKG),perubahan iklim adalah berubahnya pola dan intensitas unsur iklim pada jangka waktu tertentu。

Perubahan iklim juga dapat dijelaskan sebagai saat ketika terjadi perubahan dalam kondisi cuaca rata-rata。

Perubahan iklim dapat terlihat dari peningkatan suhu udara dan suhu permukaan laut pada umumnya。

Apa pengaruh perubahan iklim terhadap cuaca ekstrim?

Menurut penuturan Kepala Bidang Informasi Perubahan Iklim Nasrullah ,salah akibat dari perubahan iklim adalah intensitas hujan yang tinggi dalam jumlah hari yang lebih sedikit。

“哈尔tersebut yang kemudian menyebabkan banjir pada musim hujan,”kata Nasrullah saat kunjungan媒体丹印度尼西亚气候变化信托基金(ICCFT)ke kantor BMKG Rabu,9月16日。

Hal tersebut,menurutnya,juga berlaku pada musim kemarau。 Kemarau menjadi sangat kering,sehingga semakin memudahkan terjadinya kebakaran seperti di Sumatera dan Kalimantan saat ini。

Selain itu,Nasrullah juga mengemukakan gas rumah kaca sebagai pemicu terjadinya cuaca ekstrim ini。

“Adanya sumbangan kotoran udara ke atas permukaan bumi mempercepat terjadinya kondensasi yang kemudian mempercepat terbentuknya awan,yang memudahkan terjadinya banjir,”kata Nasrullah。

Apa yang bisa kita lakukan?

Berbagai aktivitas manusia merupakan penyumbang utama gas rumah kaca untuk bumi kita。

Oleh karena itu Badan Perencanaan Pembangunan Nasional(Bappenas),memiliki tiga program unggulan,yakni Rencana Aksi Nasional / Daerah-Gas Rumah Kaca(RAN / RAD-GRK),Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim(RAN-API),dan ICCTF。

ICCTF merupakan lembaga 信托基金 yang bertugas untuk mengelola dana-dana pemerintah maupun internasional untuk berbagai program terkait perubahan iklim di Indonesia。

Melalui program ini,pemerintah pusat yang terdiri dari berbagai kementrian bersama dengan pemerintah daerah,bersama-sama membuat program-program spesifik terkait mitigasi dan adaptasi,demi mencapai target pengurangan emisi sebesar 26%yang pernah dikemukakan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono(SBY)di konferensi G-20 pada 2009 lalu。

Selain itu,masyarakat juga dapat membantu mengurangi gas rumah kaca。 Hal ini dapat dimulai dari diri kita sendiri。

“Bahkan hal-hal kecil seperti menghabiskan air Aqua gelas,atau menyiramkan sisa air minum ke tanaman,merupakan hal yang berarti,”kata Nasrullah。 - Rappler.com

BACA JUGA: