Berlebaran a la Indonesia di luar negeri

2019-05-23 06:19:30 牛葆 26
2015年7月19日上午10点发布
2015年7月22日下午10:40更新

Warga negara印度尼西亚berfoto bersama setelah perayaan Idulfitri di Adelaide,澳大利亚,Sabtu,2015年7月18日。摄影oleh Tantowi Anwari

Warga negara印度尼西亚berfoto bersama setelah perayaan Idulfitri di Adelaide,澳大利亚,Sabtu,2015年7月18日。摄影oleh Tantowi Anwari

雅加达,印度尼西亚 - Merayakan Idulfitri jauh dari kampung halaman tak selalu menyedihkan。 Beragam aktivitas unik bisa dilakukan walaupun menjadi minoritas di negeri orang。

Inilah cerita mereka yang merayakan Idulfitri di luar negeri。

Menari bersama anak-anak Indonesia di Australia

Anak-anak WNI di Adelaide membawakan Tarian Saman dalam perayaan Idulfitri,Sabtu,Juli 18。 Foto oleh Tantowi Anwari

Anak-anak WNI di Adelaide membawakan Tarian Saman dalam perayaan Idulfitri,Sabtu,Juli 18。 Foto oleh Tantowi Anwari

Sampai dengan dua tahun yang lalu,Raissa Azalia Mustafa(12)selalu mudik dari Jakarta ke Lamongan,atau ke Sambas,tempat asal orang tuanya。 Namun sejak tinggal di Australia,kebiasaan merayakan Lebaran berubah。

“Di Indonesia,kalau mudik ke kampung meriah sekali。 Setiap lebaran banyak teman,dibagi banyak angpao,dan bisa makan kue kampung yang enak-enak,“kata Raissa。

Tahun ini,Raissa merayakan Idulfitri bersama dengan banyak WNI lainnya dalam halal bihal yang diselenggarakan Komunitas Kajian Islam Adelaide(KIA)di Flinders University,Australia Selatan,Sabtu,Juli 18。

“Senang juga sih lebaran kali ini。 Bisa menari Saman dan setelah itu bermain bersama teman-teman,“ujar Raissa。

Fathi Fauzan Pakkanna。 Foto oleh Tantowi Anwari

Fathi Fauzan Pakkanna。 Foto oleh Tantowi Anwari

Lain lagi cerita Fathi Fauzan Pakkanna。 Berusia masih 12 tahun,Fathi mempertunjukkan kebolehannya berperan sebagai da'i cilik。 Ia dengan fasih melafalkan ayat al-Quran dan hadis beserta artinya。

“Apabila mendapat nikmat,bersyukurlah; jika terkena musibah,bersabarlah,“demikian Fauzan mengutip salah satu anjuran yang tertera dalam al-Quran untuk hadirin yang tengah antusias menyimak pidatonya。

Meski jauh dari kampung halaman,mereka menikmati perayaan bernuansa Indonesia dengan makanan khas Lebaran seperti opor ayam,ketupat,rendang dan lainnya。

Hal serupa juga dialami oleh Pia Zakiyah yang berlebaran saat menjadi tenaga pengajar bahasa Indonesia di sebuah sekolah di Geelong di negara bagian Victoria,Australia。

Menjadi minoritas di Australia:Tak ada nuansa lebaran

Lahir dan besar di Bandung,Jawa Barat,ia merasa rindu dengan suasana berlebaran di kota kelahirannya。 “Terasa banget bedanya lebaran di sini(澳大利亚)dan di Indonesia,”kata wanita 24 tahun ini。

Tidak ada nuansa lebaran yang sebelumnya selalu ditemui di Indonesia,seperti orang yang mudik,membuat kue lebaran,ketupat dan opor,iklan sirup di televisi,atau pun orang-orang yang heboh membeli baju bedug。”

Ia dan rekan kerjanya menghabiskan lebaran dengan melaksanakan salat Idulfitri di Konsulat Jenderal RI di kota Melbourne,dan halal bihalal dengan sesama warga Indonesia lainnya di sana。

Namun ia mengaku bahwa ini hanya sesaat karena Pia akan kembali ke tanah air pada akhir tahun。 Ia sudah mengajar di Geelong selama lebih dari 5 bulan。

Cerita menarik saat Ramadan di luar negeri?

“Saat bulan Ramadan tidak terlalu terasa nuansanya karena di sini saya minoritas。 Jadi orang-orang pada aneh kenapa saya enggak makan atau minum saat siang hari。 Sampai-sampai mereka takut saya meninggal,“ujarnya。

Salat Ied bareng di Inggris

Bagi Karina Adelita,inilah Idulfitri keduanya di negeri orang,dan yang ketiga tidak bersama keluarga。

“Tahun 2011 aku pernah exchange terus tahun lalu IM(Indonesia Mengajar),jadi udah biasa,”kata mahasiswi pasca sarjana,利兹大学企业传播与公共关系部。

Tak sulit buat dia untuk menjalani hidup sebagai mahasiswi印度尼西亚穆斯林。 “Untuk di Leeds,alhamdulillah warga Indonesia cukup banyak dan kita deket satu sama lain。Di sini juga ada organisasi namanya KIBAR(Keluarga Islam Indonesia Britania Raya)yang biasa menyelenggarakan acara-acara keagamaan。”

Hidup tanpa keluarga di Inggris,Karina dan rekan-rekannya sesama mahasiswi muslim asal Indonesia memilih salat bersama-sama di Leeds Grand Mosque dan bersilaturahmi di rumah salah satu warga Indonesia。

Bersama istri menikmati makanan Indonesia di Amerika

Di tengah rasa rindu terhadap keluarga di Yogyakarta,Aichiro Suryo,mahasiswa pasca sarjana jurusan公共政策di芝加哥大学,menikmati Lebaran pertama di Amerika。

Di sana,Chiro mengikuti salat Ied dan berlebaran di Konsulat Jenderal RI dan menikmati berbagai hidangan khas Indonesia。

“Obat kangen kampung halaman,”kata Chiro。

Satu hal yang disyukuri Chiro adalah istrinya mendampingi dia merayakan Lebaran di Amerika。

“Lebaran jauh dari rumah,kangen pasti.Tapi untungnya ada istri di sini,jadi tetep ada Indonesia di depan mata。” - Dengan laporan dari Haryo Wisanggeni dan Abdul Qowi Bastian / Rappler.com